Darmakradenan_ Pemenuhan kebutuhan melalui teknologi informasi kini sangat diperlukan masyarakat. Apalagi bagi mereka yang tinggal di tanah rantau. Mereka sangat membutuhkan informasi yang berkembang di kampung halamannya.
Atas dasar itu saat sekarang ini sejumlah pemerintah desa di Kabupaten Banyumas yang telah membuat website sendiri sebagai ruang informasi untuk warganya maupun masyarakat secara luas. Di sisi lain website ini sebagai sarana promosi pemerintah desa.
Ruang informasi yang dipajang pada website pun cukup lengkap. Sebab, mencangkup semua profil dan potensi desa. Selain itu, pemerintah desa juga memberikan informasi tentang kejadian dan kegiatan desa yang terangkum dalam berita, serta ruang opini dan interaksi warga.
Keinginannya untuk menampilkan informasi desa di media internet lantaran hampir semua warga, terutama para kawula muda di desa itu sudah karib menggunakan internet, bahkan menjadi sebuah kebutuhan.
Sebelumnya Kami menggunakan blog, tapi sudah tidak aktif karena penyajian informasinya terbatas. Sekarang kami membuat lagi website darmakradenan.desa.id yang tergabung dalam Gerakan Desa Membangun (GDM), Website ini direspon positif warga karena informasinya lebih lengkap dari sebelumnya.
Informasi perkembangan desa sangat dibutuhkan menyusul warga Desa Darmakradenan yang hidup di perantauan cukup banyak. Dari jumlah total penduduk yang mencapai 10.560 jiwa dengan rincian jumlah penduduk laki-laki sebanyak 5.150 jiwa dan perempuan sebanyak 5.410 jiwa itu, hampir 500 warga berada di perantauan. Sebagian besar mereka merantau ke Jakarta, sedangkan lainnya ke luar negeri.
Diakui, website desa telah banyak dikunjungi warga. Sehingga, warga rantau tidak perlu jauh pulang mengetahui informasi, karena kabar kampung yang berjarak sekitar 32 kilometer dari pusat Kabupaten Banyumas bisa dibaca di internet.
Manfaat lain, kami dapat memfasilitasi kalangan akademisi yang melakukan penelitian karena data yang disediakan pada website sangat lengkap.
Warga Darmakradenan perantauan di Jakarta, Yudi (38) mengatakan website ini memberikan informasi yang cukup lengkap. Informasi ini diharapkan dapat lebih memajukan pemerintah desa dalam melayani masyarakat untuk mendukung pembangunan desa yang lebih baik.
“Kami harap admin website terus mengupdate kabar kampung untuk menarik minat warga, terutama kalangan muda. Ayo, Darmakradenan terus maju walaupun desa pinggiran,” katanya.
Warga perantau lain yang sudah puluhan tahun di luar negeri yang sudah di anggap hilang oleh keluarganya, Eko Rahayu Ningsih (27) mengungkapkan ,”saya sudah puluhan tahun di Kuala Lumpur, saya sering kirim surat tapi tak pernah sampai, dan HP saya hilang waktu itu, pokoknya susah sekali untuk komunikasi dengan keluarga”.
“Saya berterima kasih dengan adanya website ini dan menemukan nomor HP admin Website Desa Darmakradenan, dan sekaligus membantu saya bisa berkomunikasi dengan keluarga lagi.” tambah dia via sms.
Sementara itu, Kepala Desa Darmakradenan Harjono juga mengemukakan website ini untuk memperkenalkan profil desa kepada masyarakat luas melalui kegiatan-kegiatan desa. “Selain membantu menginformasikan kepada masyarakat, website ini sebagai ruang promosi desa,” katanya. (miftahmad79@gmail.com)
Semoga rasa syukur senantiasa terucap dari lisan kita atas begitu banyak limpahan rahmat, nikmat, dan karunia yang Allah Subhanahu Wata’ala anugerahkan kepada kita semua.Sehingga kita dapat menjalankan tugas-tugas kita dengan sebaik-baiknya.
Selamat datang di Website Pemerintahan Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Dewasa ini kinerja instansi pemerintah semakin menjadi sorotan, terutama sejak timbulnya iklim transparansi di masyarakat. Untuk meningkatkan kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diperlukan pedoman agar pelaksanaan kegiatan- kegiatan menjadi terarah, terukur dan dapat diaudit oleh masyarakat luas.
Di era globalisasi ini, kebutuhan akan komunikasi dan informasi untuk mewadahi kepentingan masyarakat dan instansi sangat tinggi. Oleh karena itu, walaupun masih sederhana, kami ingin ikut menyumbangkan sarana komunikasi dan informasi dengan bergabung dengan komunitas Gerakan Desa Membangun, Blogger Banyumas, Blogger Nusantara, Lembaga Infest Jogjakarta, Rumah Desa Indonesia, OI Blankon dan komunitas lainnya.
Melalui Website ini Kami undang kehadiran Anda untuk mengetahui lebih banyak tentang Pemerintahan Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang dengan singgah di Web kami dan ikut meramaikannya. Mari bergabung. Semoga bermanfaat.
Darmakradenan_ Bak Spiderman yang merayap di tebing gedung kota, Sakim (37) nampak begitu yahud mendaki bukit kapur di Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang Banyumas. Tangannya yang keras, terlihat begitu terampil memanjat.
Tebing setinggi 60 meter itu, dia panjat hanya dengan seutas tali. Tali berwarna biru itu dia lilitkan di pinggangnya. “Talinya cukup kuat kok,” ujar Sakim sebelum memanjat.
Sakim merupakan satu dari ribuan penduduk Darmakradenan yang bekerja sebagai penambang batu kapur. Penduduk desa itu sendiri mencapai 10.000 jiwa.
Sebagai penambang batu kapur, Sakim dan sejawatnya harus berjudi dengan malaikat maut. “Beberapa teman saya ada yang jatuh dari tebing itu,” ujar Sakim sambil menunjuk suatu bukit yang tak jauh dari tempatnya. Kalau Sakim sendiri, “Amit-amit deh kalau sampai jatuh,” selorohnya miris.
Untuk menggali tebing kapur yang keras, Sakim hanya mengandalkan linggis. Kadang-kadang, dia menggunakan dinamit dengan daya ledak rendah untuk menghancurkan tebing. Semua dia kerjakan sendiri.
Penghasilan penambang kapur ternyata tak sebanding dengan bahaya yang diterima. Untuk satu truk kapur, Sakim hanya mendapatkan Rp 30 ribu. Dia bisa mengumpulkan satu truk kapur dalam waktu tiga hari. Uang tersebut pun tak dia bawa pulang sendiri. Dia menyisihkan Rp 10 ribu untuk pemilik tebing.
Madsaid (51), penambang lainnya mengaku pernah jatuh dari tebing. “Saya bersyukur hanya luka ringan”” katanya.
Meski bekerja penuh resiko, baik Sakim maupun Madsaid mengaku tak punya pilihan pekerjaan lain. Untuk menambah penghasilan, kadang-kadang mereka menanam palawija di lahan perkebunan kakao milik PT Rumpun Sari Antan.
“Masalahnya kalau ada kakao hilang, kami takut dituduh mencuri seperti Mbok Minah,” ujar Madsaid.
Sambil menghisap rokok yang dilintingnya sendiri, Madsaid berkisah tentang kegalauan masa depannya. Dia mendengar, tak berapa lama lagi, hamparan bukit putih kapur yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya akan berubah menjadi pabrik semen.
Mengingat usianya, dia ragu, tenaganya akan dipakai oleh perusahaan semen itu. Jika tak dipakai lagi, “Saya tidak tahu akan bekerja apa lagi,” katanya.
Direktur Utama Sinar Tambang Arthalestari, Suwadi Bing Adi mengatakan, perusahaannya akan menginvestasikan uang senilai Rp 2,3 triliun untuk membangun pabrik semen di tempat itu. “Pabrik ini akan berada di wilayah Kecamatan Ajibarang dan Kecamatan Gumelar,” katanya.
Suwadi mengatakan, untuk mendirikan pabrik berikut areal penambangannya, perusahaannya membutuhkan areal seluas 360 hektare. Wilayahnya, mencakup belasan desa di wilayah Kecamatan Ajibarang dan Gumelar.
Menurut dia, dalam rencana tersebut, mereka sudah mulai melakukan proses pembelian lahan warga setempat yang akan digunakan sebagai areal pabrik dan areal penambangan. Saat ini, luas lahan yang dibebaskan sudah sekitar 34 hektare.
Dia berjanji, jika perusahaannya sudah berdiri, tenaga kerja akan diprioritaskan berasal dari warga setempat. Menyangkut jaminan kondisi lingkungan di lokasi pabrik dan penambangan, dia menjamin masalah ini akan sangat diperhatikan. Bahkan mengenai kekhawatiran sebaran debu akibat proses operasional pabrik semen, dia menyatakan akan ditekan seminimal mungkin.
Berdasarkan data yang tertuang dalam draft Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL dan RPL), pabrik tersebut direncanakan akan memiliki kapasitas produksi sebanyak 2,5 juta ton per hari. Sedangkan jumlah tenaga kerja yang terserap, mencapai 318 karyawan teknis. Rencananya, semen produksi pabrik semen di Banyumas ini akan diberi nama Panasia Cement.
DARMAKRADENAN – Warga sekitar Darmakradenan mempercayai Wilayah RW 07 Grumbul Darma Wetan kali itu merupakan kuburan para leluhur yaitu kuburan yang sekarang disebut makam Nyai Lumpang. Para leluhur itu meninggal saat jaman Majapahit dan sebelum nama Desa menjadi Darmakradenan. Karena itu, di sekeliling makam Nyai Lumpang banyak makam keramat. Makam ini sering menjadi tempat ziarah masyarakat, terutama pada bulan Syura.
Eyang Warsono Sudin, 57 tahun, seorang juru kunci makam Nyai Lumpang, menceritakan, di Wilayah RW 07 Grumbul Darma Wetan Kali, terdapat banyak makam keramat salah satu dari makam tersebut yaitu seorang Nyai istri dari Mbah Darmakusuma alias Darmajaya alias Darmasurya alias Darmasejati, Mbah Darmakusuma dipercaya sebagai orang sakti yang berasal dari Desa Dermaji. Dia menetap di Darmakradenan kemudian kembali ke Dermaji hingga ajalnya.
Namun, sebelum meninggalkan Darmakradenan, konon Mbah Darmakusuma pernah menetap di Paningkaban di sana dia dijuluki dengan sebutan Mbah Darmasurya yang saat ini banyak sekali warga disekitar Desa tersebut mata pencahariannya sebagai penambang emas dengan kata lain surya itu sinar jadi wilayahnya bersinar atau banyak emasnya, beber Sudin.
Dari beberapa yang diceritakan Eyang Sudin sampai saat ini belum tau nama asli Nyai Lumpang,”Nama itu hanya julukan saja, dari juru kunci sebelumnya saya tanya juga ora patia paham gweh (tidak tau).”katanya, Senin (4/1).
Warga sekitar dulunya sering mendengar suara seperti orang menumbuk padi, “Memang semenjak ada makam di situ, waktu kecil saya juga sering mendengar,saat malam Jum’at Kliwon terdengar seperti suara orang menumbuk padi sampai nyaring dan menggema, dan di situ lumpang (tempat menumbuk padi)nya juga masih ada.”tambah Eyang Sudin.
Eyang Sudin memang tidak ada garis keturunan dari Mbah Darmakusuma, namun dia kerap ke Darmaji untuk berziarah ke makamnya, dari sinilah Eyang Sudin mendapat amanat dari juru kunci makam Mbah Darmakusuma yang ada di Desa Darmaji untuk merawat makam Nyai Lumpang dan sekaligus menjadi juru kunci yang ke-15.
Tak jauh dari makam Nyai Lumpang, ada dua makam lagi yang masih alami. Warga percaya itu adalah pengikut Nyai, yaitu Mbah Hanggoro alias bambah Bathok dan Mbah Singomerjo alias eyang blender. Nama itu di ungkapkan Tohidin (50) saat beristirahat dan tertidur di sekitar makam,”Waktu tahun lalu saya selesai mencangkul dan beristirahat kemudian tertidur datang dua orang menemui saya, orangnya tinggi besar dan berjenggot dia mengaku nama Hanggoro dan Singomerjo, dia berdua juga berpesan untuk tidak merusak dan mengambil apa yang ada di daerah makam seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan lainnya apalagi sampai merusak tanah.”katanya.
“Kalau di Wilayah ini khususnya RW 07, Banyak makam keramat. Di sebelah selatan sungai juga ada makam Raden Ayu, Makanya jangan sombong dan ngomong sembarangan jika melewati makam ini, karena banyak penghuninya,” tambah Tohidin Warga setempat.
Dari makam seorang perempuan dan bentuk batu lumpang serta suara yang sering terdengar itulah warga sekitar menamai dengan sebutan Nyai Lumpang.