Pilih Laman
Gelar Tradisi Di Sungai Tajum

Gelar Tradisi Di Sungai Tajum

DARMAKRADENAN (PusInfoDarma): Ratusan Warga Darmakradenan yang tinggal di sekitar sungai menggelar tradisi gebyuk ikan di sungai Tajum, Senin (08/9) belum lama ini.

Setiap musim kemarau, hampir semua warga di sekitar Sungai Tajum Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, terutama kaum ibu mencari Ikan di sepanjang Sungai Tajum, sungai Besar yang melintasi Desa mereka.

Gebyuk Kali adalah tradisi sejak dulu di lakukan warga RW 06 Grumbul Kesal dan RW 07 Grumbul Darma Wetan Kali, menangkap ikan dengan menggunakan sirib atau sejenis jaring yang dibuat berbentuk segi empat secara beramai-ramai, gebyuk ikan pun dimulai sejak jaman nenek moyang mereka hingga sekarang.

menurut Saefudin (42) warga setempat.” Tradisi gebyuk ikan itu sudah jadi tradisi warga sekitar sungai Tajum, khususnya warga Desa Darmakradenan selama berpuluh – puluh tahun.”Katanya sambil mengusap keringat.

Dia menambahkan.”Kami serombongan secara beramai-ramai akan berendam menyusuri sungai mencari ikan sampai dapat hingga menjelang maghrib nanti.ucap Bapak dua anak ini.

Selanjutnya menurut Kepala Desa Darmakradenan H.Harjono Fauzan saat di hubungi via ponselnya, beliau mengatakan,”hal itu wajar-wajar saja yang penting tidak menggunakan obat- obatan yang nantinya dapat membunuh benih ikan, kalau ada yang menggunakan obat- obatan akan saya kasih sanksi, karena aturan itu sudah di buat dalam Peraturan Desa,”tegas beliau.

Sementara ikan-ikan yang mereka dapatkan di antaranya ikan Munjair, Tawes, Melem. Bagi mereka dimusim kemarau suatu kesempatan memperoleh banyak ikan di sungai secara gratis, karena debit airnya menyusut sehingga ikan mudah ditangkap.

selain untuk lauk pauk di rumah, ikan-ikan itu juga nantinya untuk di jual.”ini suatu keberkahan bagi saya, lumayan buat beli susu anak,” Ujar joni warga Grumbul Kesal.(ip79)

Waspai Tanah Longsor

Waspai Tanah Longsor

PusInfoDarma_ Intensitas hujan di Banyumas Raya belakangan ini makin tinggi. Bahkan, hujan deras yang megguyur mengancam beberapa desa di wilayah Kecamatan Ajibarang, terutama Desa Darmakradenan.

Berdasarkan catatan, hampir setiap tahun tapatnya ketika memasuki penghujan desa ini kerap terjadi musibah bencana tanah longsor. Sedikitnya ada delapan lokasi rawan longsor di Desa yang dihuni 3560 kepala keluarga (KK) atau 10.650 jiwa tersebut. Kebanyakan terletak di RW 1,2,3,4,5,8 dan 9.Selain kerap
mengancam rumah, jalan penghubung Darmakradenan-Gumelar pun menjadi ancaman berikutnya. Sebab, tebing disekitar jalan itu kemiringannya tegak lurus.

Kepala Desa Darmakradenan mengakui bahwa wilayah setempat tidak layak dijadikan tempat permikuman. Bapak nomor satu di Desa Darmakradenan juga menjelaskan, wilayah setempat masih potensial terjadi longsor pada musim penghujan. Alasannya karena permukiman itu berada di perbukitan dengan kemiringan tanah antara 48 hingga 60 derajat.Dengan demikian, air tidak dapat meresap langsung ke tanah melainkan langsung mengalir ke bawah. OLeh karena itu, daerah setempat potensial terkena longsor.

Selain itu, drainase di daerah tersebut tidak bagus.Untuk menghindari kemungkinan yang terjadi, aparat Desa Darmakradenan meminta agar warga makin waspada. Disamping itu, desa memberikan arahan kepada warga yang permukimannya dibawah tebing untuk mengungsi yang dianggap cukup nyaman, bila hujan lebat.

“Disini kontur tanahnya cukup labil, dan rentan terjadi bencana tanah longsor terutama saat penghujan datang,” tambah Kades Darmakradenan Harjono melalui akunnya beberapa waktu lalu.Selain itu, kata dia, warga diminta untuk memperbaiki dan membuat saluran air tepat diatas tanah bertebing, serta menebang sejumlah pohon untuk mengurangi beban tanah. Dengan demikian, jika hujan melanda aliran air bisa mengalir, dan bencana alam tanah longsor tidak meluas. Untuk itu pihaknya berpesan kepada warga agar tetap waspada saat penghujan datang.

Berkurban, Membangun Kepedulian Sosial Antarsesama

Berkurban, Membangun Kepedulian Sosial Antarsesama

AJIBARANG – Berkurban pada Hari Raya Idhul Adha memberi pesan moral kepada umat Islam, salah satunya membangun kepedulian sosial antarsesama. Berkuraban sapi atau kambing ini disambut antusias seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang karena kegiatan itu merupakan suatu ibadah.

Untuk mendukung kegiatan sosial melalui berkurban, warga wilayah RW 08 Grumbul Cipecang Desa Darmakradenan sebelumnya menggalang dana setiap seminggu sekali sebesar Rp 4 ribu. Adapun warga yang memberikan iuran sebanyak 49 orang.

“Dengan menggunakan sistem arisan mereka mampu kurban satu ekor sapi untuk tujuh orang,” terang Ketua RT 7 RW 8, Rajiwan.

Sistem penggalangan dana ini terbilang ringan dan mudah. Tak heran, penggalangan dana dengan metode arisan ini langsung diikuti oleh warga lain di desa setempat. Hasil positifnya, setiap tahun warga bisa menikmati banyak daging kurban.

Rajiwan mengatakan pada tahun sebelumnya warga sangat prihatin karena sulit untuk mendapatkan daging kurban. Untuk memenuhi permintaan daging kepada warga tidak mampu ia harus mendaftarkan daging kurban untuk warganya ke wilayah RT lain.

“Tapi sekarang Alhamdulilah dengan cara arisan di setiap tahun, warga saya yang kurang mampu sekarang bisa berkurban dengan satu ekor sapi untuk tujuh orang,” katanya.

Bahkan, sambung dia, daging kurban ini bisa dibagikan secara luas hingga ke wilayah wilayah RT lain. “Sistem arisan seperti ini sudah berjalan sekitar empat tahun. Ini akan terus dipertahankan dan kami berharap warga terus berpartisipasi memberi iuran untuk kurban pada tahun depan,” paparnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan PusInfoDarma, hewan kurban pada tahun ini tercatat 20 ekor sapi dan 83 ekor kambing. Kegiatan kurban ini tersebar di seluruh Rukun Warga (RW) yang ada di Desa darmakradenan. Hasil pemantauan juga tidak ditemukan indikasi penyakit pada daging kurban. Semuanya layak untuk dikonsumsi.(ip79).

Bupati Banyumas Siap Selesaikan Konflik Agraria di Darmakradenan

Bupati Banyumas Siap Selesaikan Konflik Agraria di Darmakradenan

ampera

Ilustrasi

PURWOKERTO_ Bupati Banyumas Achmad Husein menyatakan, tetap berkomitmen untuk menyelesaikan masalah konflik agraria antara warga Desa Darmakradenan Kecamatan Ajjibarang dengan PT Rumpun Sari Antan (RSA), selaku pemegang hak guna usaha sampai tahun 2018. “Saya juga sudah berulang kali memberi penjelasan. Ini tidak hanya kali ini saja, saat mereka (warga dan aliansi masyarakat dan mahasiswa) menanyakan kembali pada peringatan Hari Tani Internasional ini,” kata Bupati, Senin (28/9).

Menurutnya, pengajuan izin perpanjangan Hak Guna Usaha PT Rumpun Sari Antan itu, baru bisa diajukan lagi September 2016 mendatang. Sehingga dia enggan disebut selama ini tak berbuat apa-apa dan seolah menutup mata maupun dianggap tidak membela rakyatnya sendiri. “Pengajuannya (perpanjangan,red) saja belum dilakukan, kita bisa apa ? Bupati itu, hanya satu dari tujuh bagian terkait yang termasuk dalam tim B. Yakni tim yang nantinya menentukan apakah pengajuan izin HGU itu di setujui atau tidak,” kata Husein, terpisah.

Dia menegaskan, tetap berkomitmen untuk ikut menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun tersebut. Sehingga alasan tidak mau menemui pendemo, selain sudah pernah memberi penjelasan, juga harus menyelesaikan pekerjaan kedinasan lain, yang juga butuh diselesaikan.

Sumber: Suara Merdeka

Kedung Iyom, Menanti Jembatan Gantung

Kedung Iyom, Menanti Jembatan Gantung

Ajibarang_ Cuaca di wilayah Kabupaten Banyumas pagi itu tampak cerah. Udara sejuk di wilayah Dusun Kedung Iyom, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang terasa, apalagi aliran sungai berdesau dan rerimbunan pohon bambu serta kayu keras melengkapi kesejukan. Hampir setiap hari warga di dusun itu harus menyusuri Sungai Tajum untuk memulai aktivitas mereka, baik yang menjadi pelajar, pedagang maupun buruh tani.

Akses jalan menyeberangi sungai merupakan jalur vital bagi warga setempat. ”Kalau menyeberangi sungai jarak tempuh ke sekolah maupun pemerintah desa menjadi lebih dekat,” kata warga setempat, Syarif Hidayat (38).

Selain menyeberangi sungai, sebenarnya ada jalan alternatif lain melewati jalan Desa Kracak. Namun, jaraknya jauh dan kondisi infrastrukturnya rusak. Apabila diukur jarak dari Dusun Kedung Iyom ke MI Maarif mencapai lima kilometer. Padahal, tidak semua warga di dusun itu memiliki motor. Dengan demikian, warga lebih memilih menyeberangi sungai.

Mereka terpaksa memanfaatkan jalan alternatif melewati Desa Kracak ketika sungai sedang banjir besar. ”Warga takut kalau banjir besar, sehingga meskipun jaraknya jauh tetap saja dilewati. Kalau tidak anak-anak malah jadi tidak bersekolah,” tuturnya.

Anak-anak sekolah terutama yang masih mengenyam pendidikan dasar biasanya mereka digendong, khusus bagi mereka yang sudah kelas empat hingga enam ada berjalan sendiri. Mereka melepas sepatu sebelum menyeberang dan kemudian memakai lagi setelah menyeberangi sungai. Itu sudah rutin dilakukan setiap hari. ”Tidak mungkin sepatu tetap dipakai nanti malah basah,” kata siswi MI Ma’arif Darmakradenan, Sofi.

Di dusun itu terdapat 50 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 200 jiwa. Rata-rata pekerjaan warga adalah buruh tani dan pedagang hasil pertanian di Pasar Ajibarang. Di dusun itu merupakan dusun terpencil dan terisolasi, sehingga sudah bertahun-tahun warganya menjalani aktivitas dengan menyusuri sungai. ”Terkadang ketika banjir tapi tidak besar ada warga yang membuat gethek untuk menyeberang warga. Biasanya warga membayar Rp 500 untuk anak-anak dan Rp 1.000 untuk orang dewasa,” kata perangkat Desa Darmakradenan, Ahmad Miftah.

Rencana Pembangunan Permasalahan itu sebenarnya sudah sering disampaikan warga ke pemerintah desa melalui musyawarah warga supaya dibangun jembatan gantung. Bahkan, pemerintah desa telah menampung aspirasi warga pada usulan rencana pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Dalam penyusunan RPJMDes memunculkan permasalahan dan potensi hasil pembahasan yang partisipatif, salah satunya masalah jalan penghubung di RT 02 ke RT 03 RW 06 terhalang Sungai Tajum sehingga perlu jembatan gantung. ”Kami sudah mengusulkan pembangunan ke pemerintah daerah tiga kali, namun belum juga terealisasi,” kata Kades Darmakradenan, Harjono.

Dalam usulan tersebut, rencana pembangunan jembatan gantung membutuhkan anggaran sekitar Rp 650 juta. Anggaran tersebut untuk membangun jembatan gantung dengan lebar 160 centimeter dan panjang 65 meter. ”Kami mengusulkan pembangunan ke pemerintah daerah karena tidak mampu menganggarkan anggaran sebesar itu,” ujar dia.

Karena itu, tahun ini akan diusulkan lagi ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Namun, sebelum diusulkan pemerintah desa diminta mengkaji kembali usulan tersebut dengan melibatkan konsultan. ”Tapi di dalam penggunaan anggaran desa tidak ada ketentuan penggunaan anggaran untuk membayar konsultan, sehingga menjadi kendala,” kata Harjono.

Adapun swadaya warga untuk membayar konsultan pembangunan dimungkinkan kurang mampu, karena jasa konsultan besar. ”Warga biasanya melakukan swadaya dengan kerja bakti. Kalau swadaya dana besar mereka kurang mampu,” katanya lagi. Dengan demikian, kini warga hanya merindukan dan mengharapkan kapan jembatan gantung terealisasi. Usulan jembatan gantung dinilai sangat prioritas untuk kelancaran aktivitas warga masyarakat, bahkan dapat membuka akses jalan baru menghubungkan Desa Darmakradenan ke Desa Kracak melintasi Dusun Kedung Iyom. ”Kami berharap rencana pembangunan yang telah diusulkan ke desa dan pemerintah daerah dapat terealisasi untuk kepentingan warga,” kata Syarif (17).

Sumber: Suara Merdeka